SORONG-Kegiatan Sosialisasi Pengembangan Literasi Berbasis Sosial resmi dibuka oleh Mustika Baiduri, Staf Ahli Bupati Sorong Bidang Hukum dan Politik, yang ditandai dengan pemukulan tifa sebagai simbol dimulainya gerakan literasi di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Kegiatan berlangsung selama dua hari, 5–6 November 2025, di Gedung Serbaguna lantai dua milik Dinas Perpustakaan Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Dalam sambutannya, Mustika Baiduri menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) merupakan prioritas utama menuju Kabupaten Sorong yang maju dan sejahtera.
Menurutnya, literasi tidak hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup.
“Literasi yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk menggunakan pengetahuan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsep literasi berbasis sosial menjadi penting karena menempatkan perpustakaan sebagai ruang publik yang hidup. Perpustakaan kini tak sekadar tempat menyimpan buku, tetapi menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk belajar, berinovasi, dan berkreasi.
“Perpustakaan harus hadir sebagai pusat kegiatan masyarakat, tempat berbagi pengalaman, membangun keterampilan, dan mengembangkan potensi lokal,” lanjutnya.
Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah berharap agar taman bacaan masyarakat, perpustakaan kampung, perpustakaan puskesmas, hingga rumah baca dapat menjadi bagian dari gerakan literasi yang produktif dan berdampak nyata.
“Kita ingin masyarakat tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu berkarya mengolah hasil pertanian, membuat kerajinan tangan, berwirausaha, dan memanfaatkan teknologi digital,” kata Mustika.
Ia juga mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, lembaga masyarakat, hingga dunia usaha, untuk memperkuat ekosistem literasi di Kabupaten Sorong.
Dalam laporan panitia, kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh 60 peserta, yang terdiri dari masyarakat umum, kepala distrik, dan pengelola taman bacaan.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta diajak berdiskusi dan menyusun rencana pengembangan literasi yang selaras dengan potensi daerah. Melalui sinergi antara pemerintah, pengelola perpustakaan, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan melahirkan inovasi dan kolaborasi nyata.
“Perpustakaan harus menjadi tempat masyarakat menemukan solusi atas tantangan kehidupan mereka. Mari jadikan literasi sebagai gerakan sosial yang menghidupkan semangat belajar dan berkarya di Kabupaten Sorong,” tutup Mustika Baiduri.
Penulis: Andre R




