Thursday, May 14, 2026
Google search engine
HomePendidikanGubernur Elisa Kambu Diminta Segera Selamatkan Puluhan Mahasiswa PBD di China-Jepang, Yayasan...

Gubernur Elisa Kambu Diminta Segera Selamatkan Puluhan Mahasiswa PBD di China-Jepang, Yayasan Golden Gate Harus Tanggung Jawab

KOTA SORONG – Program pengiriman mahasiswa beasiswa asal Papua Barat Daya ke luar negeri yang berjalan sejak tahun 2023 kini didera masalah serius. Diduga ada penelantaran terhadap para mahasiswa yang dikirim studi ke China dan Jepang tersebut.

Anggota DPD RI dapil Papua Barat Daya Paul Finsen Mayor mendesak Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu untuk turun tangan menyelesaikan persoalan tersebut. PFM juga meminta yayasan yang mengirimkan para mahasiswa itu bertanggung jawab.

“Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, untuk segera mengambil kebijakan diskresi guna membiayai langsung 46 mahasiswa yang berada di China dan Jepang tersebut agar studi mereka tidak terhenti,” tegas PFM, Rabu (4/3/2026).

“Kepada pihak penyelenggara beasiswa agar tidak lari dari tanggung jawab atas nasib anak-anak Papua di luar negeri. Saya minta Yayasan Golden Gate bertanggung jawab, kalau tidak akan dibawa ke jalur hukum,” imbuh dia.

Persoalan berawal Pemerintah PBD melalui Dinas Pendidikan bekerja sama dengan Yayasan Golden Gate untuk memberangkatkan 25 mahasiswa ke China dan 21 mahasiswa ke Jepang. Namun, para mahasiswa tersebut dilaporkan mengalami penderitaan akibat pemotongan biaya hidup yang tidak transparan dan fasilitas yang tidak sesuai janji.

Awalnya, para mahasiswa di China dijanjikan uang saku bulanan sebesar 3.000 Yuan beserta pembiayaan izin tinggal (resident permit). Kenyataannya, tanpa penjelasan yang jelas, dana tersebut dipotong secara drastis hingga mahasiswa hanya menerima 950 Yuan atau sekitar Rp2,3 juta per bulan. Jumlah tersebut dinilai sangat tidak mencukupi untuk biaya makan dan kebutuhan hidup di Cendong, China.

Kondisi ini diperparah dengan sikap pihak pengelola yang seolah lepas tangan. “Ketika dikonfirmasi ke Yayasan Golden Gate, malah pihak yayasan katakan sudah kalian berusaha cukup-cukupkan saja,” ungkap perwakilan keluarga mahasiswa kepada Paul Finsen Mayor.

Dampak dari minimnya biaya hidup dan ketiadaan asuransi kesehatan membuat kondisi fisik para mahasiswa menurun drastis. Sejumlah mahasiswa dilaporkan jatuh sakit mulai dari menderita paru-paru, maag, hingga gangguan usus, bahkan ada yang mengalami penurunan berat badan ekstrem hingga menyentuh angka 30 kilogram.

Ironisnya, saat beberapa mahasiswa kembali ke Sorong untuk berobat dan hendak kembali ke China, mereka mendapati izin tinggal mereka telah dicabut dan visa dinyatakan kedaluwarsa. Bukannya memberikan solusi, pihak yayasan justru diduga menekan para mahasiswa untuk menandatangani surat pengunduran diri.

Penulis: Dwi P

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments