SORONG – Senator asal Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor (PFM), menekankan pentingnya penguatan nilai-nilai kebangsaan melalui implementasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan PFM dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang digelar di Aula Pertemuan Warga, Kelurahan Saoka, Distrik Maladum Mes, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100–150 peserta yang terdiri atas tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemuda dan Karang Taruna, kelompok perempuan, serta perangkat RT/RW dan kelurahan.
Dalam paparannya, Paul Finsen Mayor mengajak masyarakat untuk tidak sekadar memahami 4 Pilar MPR RI sebagai konsep kenegaraan, tetapi mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, keberagaman suku, agama, adat, dan budaya yang menjadi karakter masyarakat Papua Barat Daya merupakan kekuatan yang harus dirawat melalui semangat persaudaraan, toleransi, dan gotong royong.
“Pancasila jangan hanya kita hafalkan, tetapi harus kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan suku, agama, dan latar belakang bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun kebersamaan,” ujar Paul.
Ia menjelaskan, nilai-nilai Pancasila dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, toleransi antarumat beragama, kepedulian terhadap sesama, serta budaya gotong royong tanpa membedakan latar belakang masyarakat.
Dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan masyarakat, Paul juga mendorong agar musyawarah dan dialog selalu dikedepankan.
“Kalau ada persoalan di tengah masyarakat, jangan cepat membangun sekat. Mari duduk bersama, bermusyawarah dan mencari jalan keluar yang baik. Semangat persaudaraan harus menjadi kekuatan kita,” katanya.
Paul juga menyoroti pentingnya UUD NRI Tahun 1945 sebagai landasan dalam memberikan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat, termasuk masyarakat hukum adat dan kearifan lokal Papua.
Menurutnya, pembangunan di Papua Barat Daya harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap identitas, budaya, serta nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.
“Pembangunan tidak boleh hanya berbicara tentang infrastruktur. Kita juga harus memastikan identitas, budaya, kearifan lokal, serta hak-hak masyarakat tetap dihormati,” ujarnya.
Sementara itu, dalam membahas Bhinneka Tunggal Ika, Paul menekankan pentingnya membangun komunikasi dan ruang perjumpaan antarkelompok masyarakat untuk mencegah potensi gesekan sosial di wilayah perkotaan yang heterogen seperti Kota Sorong.
Ia mendorong tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, perempuan, serta pemerintah di tingkat distrik dan kelurahan untuk bersama-sama menjaga suasana kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan harmonis.
“Bhinneka Tunggal Ika jangan berhenti menjadi semboyan. Harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama, dalam kehidupan bertetangga, dalam bergotong royong, dan dalam menyelesaikan persoalan bersama,” tutur Paul.
Paul menyambut pentingnya keterlibatan generasi muda dalam penguatan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, pemuda merupakan bagian penting dalam menjaga persatuan sekaligus menentukan arah masa depan Papua Barat Daya.
Kegiatan sosialisasi berlangsung interaktif. Peserta aktif berdiskusi dan menyampaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan sosial, kebangsaan, keberagaman, serta penguatan peran generasi muda di Papua Barat Daya. Sosialisasi kemudian ditutup dengan penyampaian kesimpulan dan foto bersama.




